12 Januari 2016

MARIA YANG GELISAH

By    


Selasa, 12 Januari 2016 "MARIA YANG GELISAH"
Sobat renunganharian yang kami kasihi,, mari luangkan waktumu sejenak untuk belajar firman Tuhan... Semoga Tuhan memberkati hari-harimu. Amin
Ayat Kutipan : 
“Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi...,kepada seorang perawan...; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. Maria terkejut mendengar perkataan itu....Kata malaikat itu kepadanya: Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Lukas 1:26-30).

Apakah anda sudah menghabiskan banyak waktu berpikir tentang Maria? Dia seorang gadis kira-kira berusia 14 atau 15 tahun yang telah dipertunangkan dengan seorang laki-laki lebih tua sebagaimana kebiasaan pada zaman itu.
Itu tidak apa-apa. Tapi kemudian seorang malaikat muncul di kamarnya dan memberitahu bahwa dia akan hamil. Bayangkanlah kalau anda berada di tempatnya. Paling tidak, situasi ini sulit untuk dijelaskan. Bagaimanapun anda tidak bisa menyembunyikan perut yang membesar. Kemudian akan ada bayi itu. Apa kata Yusuf nanti?
Tidak heran Alkitab mengatakan dia gelisah. Pasti anda juga begitu.
Tetapi untuk mengerti dampak sepenuhnya kita harus membawa pikiran kita kembali ke abad pertama. Budaya modern yang membolehkan segalanya telah menumpulkan pemikiran kita mengenai soal ini. Terus terang, dengan satu juta gadis remaja di Amerika Serikat tiap tahun hamil di luar nikah maka kita tidak bisa merasakan betapa dahsyatnya masalah Maria. Bukan satu “masalah” kalau hal itu terjadi di kota New York, tetapi di sebuah desa Yahudi yang akrab satu sama lain di abad pertama maka berita yang dibawa malaikat itu tentu sangat menggelisahkan. Bagaimanapun, hukum bangsa Yahudi menganggap seorang wanita yang sudah bertunangan lalu hamil adalah seorang pezinah yang patut dihukum mati dengan dirajam.
Apabila kita membaca kisah dalam Injil perlu diingat bahwa orang-orang ini nyata, seperti anda dan saya. Mereka hidup di tengah masyarakat yang dengan kebiasaan gosip dan dinamika sosial seperti yang kita miliki sekarang ini. Ketika Yesus meninggalkan surga ke bumi ini, Ia datang kepada kesemrawutan yang kita sebut masyarakat.
Sementara memikirkan Maria, saya membayangkan anak-anak perempuan saya jika mereka berada dalam situasi yang sama dan hati saya pun merasa ngeri.
Tidak heran kalau Maria gemetar. Tetapi, Allah yang mengenal kita masing-masing juga mengenal dia. Dan malaikat itu menyatakan bahwa dia harus “bersukacita” sebab dia “beroleh kasih karunia di hadapan Allah.”
Di sini ada suatu pelajaran bagi saya. Dalam menghadapi berbagai tantangan dari hari ke hari, saya tidak melihat gambaran seutuhnya dengan jelas. Saya mudah berkecil hati. Tetapi Allah melihatnya secara keseluruhan yang lebih luas. Ia tahu bahwa seringkali saya diberkati ketika apa yang dapat saya lihat adalah langit yang runtuh menimpa hidup saya.
Tuhan, berilah saya mata iman agar saya dapat melihat keadaan yang sesungguhnya.

Renungan Pagi Hari Ini -- “Pandanglah pada Yesus” oleh George R. Knight

ADVERTISEMENT
Subscribe to this Blog via Email :